Domba Dorper merupakan domba yang berasal dari Afrika Selatan hasil dari persilangan Domba Persia berkepala hitam (Black-Headed Persian) dengan Domba Dorset (Dorset Horn). Ada dua jenis utama Domba Dorper, yaitu Black Headed Dorper dan White Dorper. Asal-usul genetik dari kedua varian dari breed ini adalah sama, warna yang berbeda hanya dipilih karena preferensi kesukaan.

Ciri-Ciri Domba Dorper:
- Ada yang berkepala hitam dan putih.
- Tidak bertanduk.
- Badan panjang, bulat dan berisi.
- Domba pejantan mampu mencapai bobot antara 110 -130 Kg.
- Domba betina dapat mencapai bobot hidup antara 80 -110 Kg.
- Memiliki bulu dan rambut wol tipis dan pendek.
- Kemampuan Adaptasi tinggi.
- Berdaya tahan tubuh kuat.
- Tingkat reproduksi dan pertumbuhan tinggi.
- Mampu mengasuh anak dengan baik.
Di luar Afrika Selatan, domba Dorper juga banyak diternakkan dan dikembangkan di Australia sejak tahun 1996. Alasan utama dari jenis domba ini dikembangkan di Australia karena memiliki sifat reproduksi dan produksi yang baik. Domba ini juga dianggap kuat dan cocok untuk kondisi lingkungan penggembalaan di Australia karena terbiasa menghadapi kondisi lingkungan negara asalnya yaitu di Afrika Selatan.
Di negara Kanguru, domba Dorper banyak dipelihara di daerah gurun, kawasan beriklim tropis benua ini serta daerah selatan Australia yang bercurah hujan tinggi. Domba ini bahkan terbukti mampu berkembangbiak di daerah berhawa sangat dingin dan lembab seperti Tasmania. Domba ini sangat mudah beradaptasi dengan kemampuan tinggi untuk berkembang, tumbuh, berproduksi dan berkembangbiak di lingkungan yang curah hujannya tidak teratur dan rendah. Serta memiliki kemampuan untuk merumput dan menjelajah yang menunjukkan bahwa domba ini akan mengkonsumsi tanaman yang jarang dimakan oleh Merino.
Domba Dorper memiliki kulit tebal, yang sangat dihargai di pasaran dan mampu melindungi domba pada bawah kondisi iklim yang keras. Hasil pengolahan kulit memiliki kontribusi sebanyak 20% dari total pendapatan di Afrika Selatan. Tidak seperti Merino, Domba ini tidak membutuhkan pemotongan bulu sehingga lebih tahan terhadap penyakit serangan lalat yang biasa mengghinggapi badan domba yang selesai potong bulu.
Domba Dorper di Indonesia, saat ini yang dipelihara masih sesuai dengan gambaran karakter domba Dorper di Australia. Namun, nantinya diharapkan akan muncul laporan-laporan hasil penelitian terkait karakteristik teknis khas dari domba Dorper yang telah dipelihara dan dikembangkan di Indonesia.